Postingan

Dalam Jalan Ini

 Sewaktu kecil, teringat masa-masa dimana orang dewasa akan bertanya, "Mau jadi apa?" Sontak, satu-dua mulai mengacungkan jari, berebut jawaban -dokter-, -polisi-, -tentara-, setidaknya di antara tiga itu, aku tak menjawab tiga-tiganya, hehe. Sewaktu nenek bertanya, aku jawab dengan polosnya aku ingin menjadi pedagang warung seperti nenek, berjumpa orang-orang - tersenyum tulus pada setiap pembeli yang ingin melengkapi kebutuhan sehari-harinya. Merapikan semua tatanan dagangan dengan sistematis dan teratur, dengan kesederhanaan yang ada, kupikir itu pekerjaan yang sangat mewah. Sewaktu memasuki jenjang kelas tiga sekolah dasar, aku ingin menjadi penulis muda yang mencetak penghargaan MURI sebab usianya yang begitu belia, katakanlah teh Sri Izzati. Kini beliau telah menyelesaikan studi dari Australi, dan dulu aku masih ingat mengidolakan sosoknya yang hanya bisa kutatap melalui laman belakang novel KKPK terbitan DAR! Mizan. Semasa kelas empat, aku suka sekali bermain. Semua ga...

Jalan Pulang

Kalau punya, batin yang sering berteriak, maka jangan sudi memberinya arak, Kalau punya, batin yang sering memberontak, maka jangan senang untuk membiarkan kerak, Kalau punya, batin yang sering memalak, maka jangan biarkan sendiri menyalak,   Besok-besok, Ia akan merenggut, dirimu sendiri Dan lupa cara balik pulang.   Sebelum lupa, makanya ingat Ingat jalan pulang  

Tentang Merasa

"Aku merasa.." "Rasa apa?" "Tidak tahu"                                        "Apa kamu yakin?"                                         "Atau, aku takut?"                                           "Takut untuk merasakannya" "Sedih, amarah, kecewa, khawatir,... atau" "Malah bersuka cita," "Karena, masih bisa merasa," "Dan sadar bahwa diri sedang tidak baik-baik saja."   "Mungkin rasaku saat ini adalah bentuk kasih sayang dari aku ke aku," 

Ada Apa?

 Hari ini ada apa, nona? Bukankah waktu terlampau luang bagi nona? Bukankah tempat terbentang luas bagi nona? Bukankah kawan ada di kanan-kiri nona? Lalu kenapa nona, lagi-lagi, bersedih hati? Untuk apa, bermuka masam? Untuk apa, merasa iba? Hari ini ada apa, nona? Kenapa nona tak menantikannya?

Ternyata bisa ini

Ternyata dunia bisa terasa sesepi ini. Karena satu kehilangan yang terus menerus menjadi pikiran. Ternyata udara bisa sedingin ini. Karena satu penghangat yang tak lagi menggiat.  Ternyata malam bisa sediam ini. Karena satu lampu telah mengabu.  Dan ternyata ia semenuntut itu. Menuntut agar udara dan malam terisi seperti kata mesti.  Padahal, abadi selalu dibersamai oleh kata tapi.  Dan begitu juga yang menghilang dan perlahan menghalang.  Sepi yang berkobar jadi api.

Prosa | Bunga Hari Ini

Bunga pun bisa berdiri sendiri - melepaskan kelopak kecilnya satu per satu, selama serbuk sari dan putik masih meruah di mahkotanya. Bunga pun masih melewati hari-hari panjang, menghitung satu persatu hal yang diberi sekat tumpul.

Tidak Akan Ada Orang Lain

 Nona, apa kabar? Akhir-akhir ini rasanya lelah sekali. Semua penat berkumpul dalam pojok sisi. Di antara hiruk-pikuk ini, kenapa ya yang terasa malah sepi?   Hal-hal yang kita cari, nona bagaimana jika suatu hari terdispersi tanpa memberi kabar sejak dini Tapi, hukumnya memang begitu, kan?    Tapi nona, istirahat bukanlah pilihan untuk kaki yang masih bisa berdikari Ketika senyum masih bisa dihempaskan dalam sela-sela kubangan hati Dan saat itu nona pun masih bisa berdiri sendiri   Makanya, beri secangkir kopi untuk jiwa yang menegakkan sendinya kembali Di akhir dan perniagaan jalan ini tidak ada orang lain yang akan memeluk nona selain diri nona sendiri  Di perniagaan jalan ini tidak akan ada orang lain