Dalam Jalan Ini

 Sewaktu kecil, teringat masa-masa dimana orang dewasa akan bertanya, "Mau jadi apa?" Sontak, satu-dua mulai mengacungkan jari, berebut jawaban -dokter-, -polisi-, -tentara-, setidaknya di antara tiga itu, aku tak menjawab tiga-tiganya, hehe. Sewaktu nenek bertanya, aku jawab dengan polosnya aku ingin menjadi pedagang warung seperti nenek, berjumpa orang-orang - tersenyum tulus pada setiap pembeli yang ingin melengkapi kebutuhan sehari-harinya. Merapikan semua tatanan dagangan dengan sistematis dan teratur, dengan kesederhanaan yang ada, kupikir itu pekerjaan yang sangat mewah.

Sewaktu memasuki jenjang kelas tiga sekolah dasar, aku ingin menjadi penulis muda yang mencetak penghargaan MURI sebab usianya yang begitu belia, katakanlah teh Sri Izzati. Kini beliau telah menyelesaikan studi dari Australi, dan dulu aku masih ingat mengidolakan sosoknya yang hanya bisa kutatap melalui laman belakang novel KKPK terbitan DAR! Mizan.

Semasa kelas empat, aku suka sekali bermain. Semua game kucoba, jadi aku berpikir menarik sekali menjadi programmer. Tak panjang khayal, ayah segera memberitahuku bahwa itu bisa saja jadi sampingan. Tentu saja kami bukan keluarga yang berasal dari latar belakang teknokrat, tidak tahu seberapa riweuhnya mempelajari bahasa komputer. 

Di kelas lima, aku sangat suka menggambar. Setiap buku tulisku diisi dengan gambar-gambar tidak nyata yang kukutip setiap garisnya dari komik favoritku, Detektif Conan - dan sewaktu itu aku sangat menyenangi komik-komik fiktif bertema detektif. Aku pikir, aku ingin membuat novel atau komik misteri. Lalu, temanku pada masa itu pun sama-sama suka menggambar, kami berpikir untuk menerbitkan komik kami sendiri. 

 Waktu berlalu dan masih lucu bagaimana sebagai anak-anak bermimpi punya kekuasaan sendiri menerbitkan novel, komik buka warung, membuat game. 

Semenjak SMA, dan rajin-rajinnya menonton TEDx aku masih ingat salah satu kutipan yang kudengar adalah, "Jangan mengejar cita-cita berdasarkan passionmu, tapi cari yang bisa membuatmu bermanfaat dan berkontribusi untuk orang lain." Sekejap aku langsung berpikir kenapa aku tidak menjadi dokter saja. 

Dan, disinilah aku berada. Sebuah fakultas yang mungkin diidam-idamkan anak-anak kecil itu. Tak lagi untuk yang dewasa, karena setiap orang telah punya alur hidup cita-citanya masing-masing. Pada akhirnya, aku mengikuti cita-cita yang dulu diujarkan oleh anak-anak. "Siapa yang mau jadi dokter?"

 Bagaimana perasaannya? Aku akan didemo oleh massa jika mengatakan ini hal yang buruk. Tentu saja ini baik. Berada di tempat ini suatu keajaiban yang Sofia di usia empat belas tahun akan terkejut jika mengetahuinya, dan akan terharu jika melihatnya. 

 Diriku, di tempat ini banyak sekali yang menginginkannya. Banyak sekali yang mengejarnya. Banyak sekali yang rela mengambil jeda atau menumpang di jurusan yang mirip agar tahun depannya bisa di sini. Ini jelas jauh lebih mewah dari penjaga warung dari pandangan umum masyarakat Indonesia yang masih terbawa bias. Bahkan aku disurati seorang kenalan yang luar biasa (terimakasih telah menyuratiku, aku begitu kagum padamu!) bahwasanya betapa beruntungnya aku. 

Sebenarnya, tidak seindah itu. Di sini, tak sedikit dari aku dan kawan-kawanku yang tak tahu diri. Maaf kalau aku mengatakan kami benar-benar belum sempurna mensyukuri nikmat dariNya. Sedikit yang benar-benar memanfaatkan waktunya membuka buku, menikmati susah-mudahnya memahami materi, dan masih banyak menyia-nyiakan waktu. 

Sebenarnya, tidak senikmat itu. Karena sehari-hari kami dibekali amanat untuk memperlakukan pasien selayak-layaknya diri kami, sementara kami masih selewengan dalam memperlakukan diri kami sendiri. Masih semena-mena menerapkan gaya hidup, pola makan, cara pikir, masih tidak apik juga dalam menyayangi kesehatan mental sendiri. Jadi sehari-hari kami tertekan dengan pola pikir bahwa nanti mungkin saja kami tidak tahan, tidak dapat gaji, dan harus menghabiskan bertahun-tahun studi. 

Untuk kemudian, lulus dengan tanpa jaminan bahwa kami akan baik-baik saja. Meski, hei, takdir mana yang tak diberi jaminan olehNya selama kita menghamba dengan benar? 

Sebenarnya, tidak semulus itu. Masih ada saja pola pikir yang mungkin terdengar konyol. Seperti apakah kami kelak dapat menikah sebelum bekerja, apakah kami punya waktu untuk orang-orang tersayang, apakah orang-orang akan mencemooh kami jika kami tak dapat seratus persen memahami mereka sebagai pasien dan apakah akan baik-baik saja di tengah masyarakat yang tidak ingin percaya dengan sains. 

Yah, begitulah. Isi otak mahasiswa kedokteran semester lima. 

Diri baru mawas setelah menilik kembali proses dua tahun ini. Bahwa harusnya banyak-banyak berucap puji kepada takdir. Bersyukur sudah dikokohkan di tempat yang memberi banyak kemudahan. Dan meminta maaf pada hari-hari yang diisi keluhan, meminta maaf pada orang-orang yang hidupnya seolah-olah disepelekan. Meminta maaf sebesar-besarnya pada hati yang rentan kami lukai karena tidak semua hari kami syukuri.

 - Di titik ini, meski rasanya sulit untuk terus berlari, tapi atas setiap udara, setiap momen, suka dan dukanya, terimakasih dan terimakasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Pulang

Tentang Merasa

Prosa | -Hidup