Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2020

Ternyata bisa ini

Ternyata dunia bisa terasa sesepi ini. Karena satu kehilangan yang terus menerus menjadi pikiran. Ternyata udara bisa sedingin ini. Karena satu penghangat yang tak lagi menggiat.  Ternyata malam bisa sediam ini. Karena satu lampu telah mengabu.  Dan ternyata ia semenuntut itu. Menuntut agar udara dan malam terisi seperti kata mesti.  Padahal, abadi selalu dibersamai oleh kata tapi.  Dan begitu juga yang menghilang dan perlahan menghalang.  Sepi yang berkobar jadi api.

Prosa | Bunga Hari Ini

Bunga pun bisa berdiri sendiri - melepaskan kelopak kecilnya satu per satu, selama serbuk sari dan putik masih meruah di mahkotanya. Bunga pun masih melewati hari-hari panjang, menghitung satu persatu hal yang diberi sekat tumpul.

Tidak Akan Ada Orang Lain

 Nona, apa kabar? Akhir-akhir ini rasanya lelah sekali. Semua penat berkumpul dalam pojok sisi. Di antara hiruk-pikuk ini, kenapa ya yang terasa malah sepi?   Hal-hal yang kita cari, nona bagaimana jika suatu hari terdispersi tanpa memberi kabar sejak dini Tapi, hukumnya memang begitu, kan?    Tapi nona, istirahat bukanlah pilihan untuk kaki yang masih bisa berdikari Ketika senyum masih bisa dihempaskan dalam sela-sela kubangan hati Dan saat itu nona pun masih bisa berdiri sendiri   Makanya, beri secangkir kopi untuk jiwa yang menegakkan sendinya kembali Di akhir dan perniagaan jalan ini tidak ada orang lain yang akan memeluk nona selain diri nona sendiri  Di perniagaan jalan ini tidak akan ada orang lain    

Prosa | Bernafas

 Di malam sibuk, ada orang yang sejenak menengguk secangkir teh, melepas identitas seharinya. Melontarkan syukur atas hidupnya.