Malam selalu menjadi perbincangan hangat di balik dinginnya ruam-ruam yang tak nampak dalam pikiran. Kopi tidak pernah menjadi permusuhan ketika jari-jemari harus digerakkan untuk menuntaskan catatan yang belum usai. Mata adalah kerabat yang berusaha diramahkan baik-baik, karena dalam sepersekian detik bisa saja ia berada di dimensi lain. Pada secangkir kopi yang tumpah dan lagi-lagi tidak satu frekuensi dengan pikiran. Ada surat yang belum tersampaikan. Hanya sebatas satu-dua kata yang kelak tak miliki akan. "Untuk orang-orang baik, maaf kalau sampai saat ini belum menjadi orang baik selayaknya kalian jadi baik. Untuk orang-orang yang tertawa lepas, maaf kalau sampai saat ini belum dapat tertawa lepas selayaknya kamu tertawa lepas. Untuk orang-orang yang tak ada di kasta atas, maaf kalau hingga kini masih berdoa untuk kapan-kapan diberhentikan jatah nafasnya. Jadi di surat ini hanya sebuah perwakilan dari beberapa suara yang kudengar beresonansi dari beberapa orang. M...