Prosa | -Hidup

Malam selalu menjadi perbincangan hangat di balik dinginnya ruam-ruam yang tak nampak dalam pikiran. Kopi tidak pernah menjadi permusuhan ketika jari-jemari harus digerakkan untuk menuntaskan catatan yang belum usai. Mata adalah kerabat yang berusaha diramahkan baik-baik, karena dalam sepersekian detik bisa saja ia berada di dimensi lain. 

Pada secangkir kopi yang tumpah dan lagi-lagi tidak satu frekuensi dengan pikiran. 

Ada surat yang belum tersampaikan. Hanya sebatas satu-dua kata yang kelak tak miliki akan. 

"Untuk orang-orang baik, maaf kalau sampai saat ini belum menjadi orang baik selayaknya kalian jadi baik. Untuk orang-orang yang tertawa lepas, maaf kalau sampai saat ini belum dapat tertawa lepas selayaknya kamu tertawa lepas. Untuk orang-orang yang tak ada di kasta atas, maaf kalau hingga kini masih berdoa untuk kapan-kapan diberhentikan jatah nafasnya.

Jadi di surat ini hanya sebuah perwakilan dari beberapa suara yang kudengar beresonansi dari beberapa orang.

Mereka berkata, maaf ya. Sudah genap delapan tahun diamini doa untuk berhenti hidup, tapi Alhamdulillaah diberi hidup karena di atas berarti punyai lebih sedikit hak untuk merasa tidak baik-baik saja. Mungkin besok kita (lagi-lagi) temui yang sinarnya menerangi lebih dari ini.

 Prestasi: bertahan hidup"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Pulang

Tentang Merasa