Kalau punya, batin yang sering berteriak, maka jangan sudi memberinya arak, Kalau punya, batin yang sering memberontak, maka jangan senang untuk membiarkan kerak, Kalau punya, batin yang sering memalak, maka jangan biarkan sendiri menyalak, Besok-besok, Ia akan merenggut, dirimu sendiri Dan lupa cara balik pulang. Sebelum lupa, makanya ingat Ingat jalan pulang
"Aku merasa.." "Rasa apa?" "Tidak tahu" "Apa kamu yakin?" "Atau, aku takut?" "Takut untuk merasakannya" "Sedih, amarah, kecewa, khawatir,... atau" "Malah bersuka cita," "Karena, masih bisa merasa," "Dan sadar bahwa diri sedang tidak baik-baik saja." "Mungkin rasaku saat ini adalah bentuk kasih sayang dari aku ke aku,"
Malam selalu menjadi perbincangan hangat di balik dinginnya ruam-ruam yang tak nampak dalam pikiran. Kopi tidak pernah menjadi permusuhan ketika jari-jemari harus digerakkan untuk menuntaskan catatan yang belum usai. Mata adalah kerabat yang berusaha diramahkan baik-baik, karena dalam sepersekian detik bisa saja ia berada di dimensi lain. Pada secangkir kopi yang tumpah dan lagi-lagi tidak satu frekuensi dengan pikiran. Ada surat yang belum tersampaikan. Hanya sebatas satu-dua kata yang kelak tak miliki akan. "Untuk orang-orang baik, maaf kalau sampai saat ini belum menjadi orang baik selayaknya kalian jadi baik. Untuk orang-orang yang tertawa lepas, maaf kalau sampai saat ini belum dapat tertawa lepas selayaknya kamu tertawa lepas. Untuk orang-orang yang tak ada di kasta atas, maaf kalau hingga kini masih berdoa untuk kapan-kapan diberhentikan jatah nafasnya. Jadi di surat ini hanya sebuah perwakilan dari beberapa suara yang kudengar beresonansi dari beberapa orang. M...
Komentar
Posting Komentar