"Aku merasa.." "Rasa apa?" "Tidak tahu" "Apa kamu yakin?" "Atau, aku takut?" "Takut untuk merasakannya" "Sedih, amarah, kecewa, khawatir,... atau" "Malah bersuka cita," "Karena, masih bisa merasa," "Dan sadar bahwa diri sedang tidak baik-baik saja." "Mungkin rasaku saat ini adalah bentuk kasih sayang dari aku ke aku,"
Hari ini ada apa, nona? Bukankah waktu terlampau luang bagi nona? Bukankah tempat terbentang luas bagi nona? Bukankah kawan ada di kanan-kiri nona? Lalu kenapa nona, lagi-lagi, bersedih hati? Untuk apa, bermuka masam? Untuk apa, merasa iba? Hari ini ada apa, nona? Kenapa nona tak menantikannya?
Ternyata dunia bisa terasa sesepi ini. Karena satu kehilangan yang terus menerus menjadi pikiran. Ternyata udara bisa sedingin ini. Karena satu penghangat yang tak lagi menggiat. Ternyata malam bisa sediam ini. Karena satu lampu telah mengabu. Dan ternyata ia semenuntut itu. Menuntut agar udara dan malam terisi seperti kata mesti. Padahal, abadi selalu dibersamai oleh kata tapi. Dan begitu juga yang menghilang dan perlahan menghalang. Sepi yang berkobar jadi api.
Komentar
Posting Komentar