2018 -- Sebuah Tahun Titik Balik
Halo! Perkenalkan, saya Sofia, hanya seorang insan yang antusias terhadap kepenulisan, tetapi tak kunjung menerbitkan satu kata pun di rubrik tulis-menulis. Mantan anggota Karya Ilmiah Remaja, tetapi hanya eksperimentasi tak berhasil jurnalisasi. Karya tulis saya yang paling mutakhir adalah makalah ujian praktik kelas XII yang telah diulang berkali-kali. Namun tak bohong, pada dasarnya masa kecil saya diisi dengan menunggu terbitan majalah Bobo keluar di jajanan buku trotoar Salemba. Barangkali orang lain sibuk menjahili belalang dan kumbang, saya membenamkan diri ke dalam buku Why? atau Quark.
Well, at least, that's my childhood regarding literature.
Sekarang, saya telah diterima di Fakultas Kedokteran Unpad. Dalam rencana nirsempurna milik saya, ini hanya tahap awal menuju impian saya. Menuju tahap ini tentu tidak sebatas perencanaan dan kerja keras tanpa arah. Saya menyadari dalam meraih dunia, pencapaian di satu titik adalah akumulasi dari banyak step kehidupan yang kita jalani. Sebab kita berada di suatu bukit kehidupan tidak hanya pendakian itu sendiri. Sebab kita meraih sesuatu tidak hanya kerja keras di satu jalur saja. Maka, bersungguhlah dalam setiap peran yang kita punya, apalagi jika itu menyokong kita menuju impian.
2018 adalah sebuah tahun perubahan. Kenapa? Di awal tahun ini, saya kehilangan hal-hal yang saya dekap erat, namun di bulan April ini, saya meraihnya lagi. Saya kehilangan proaktivitas, kesungguhan, pemikiran yang jernih dari dalam diri saya. Inilah komponen dasar yang seharusnya menjadi bekal setiap individu untuk meraih kesuksesan, kan? Akibatnya, saya ikut kehilangan hal lain yang seharusnya berada pada lingkaran pengaruh saya (Penggiat buku Stephen R. Covey pasti tahu apa itu lingkaran pengaruh, hehe) seperti teman, sekolah, dan hiburan yang bisa saya kontrol awalnya.
Tapi kebahagiaan kedua orang tua saya ketika mengetahui saya diterima di prodi dan tempat yang mereka harapkan cukup membayar dunia saya yang hilang tadi.
Pernahkah kamu berpikir sejenak apa yang sesungguhnya ingin kamu raih? Mungkin kamu akan menulis IPK sempurna, menjadi delegasi Indonesia ke luar negeri, atau memimpin organisasi besar. Tapi saya yakin pada akhirnya, ketika manusia berada pada masa tuanya, mereka hanya mengharapkan hal sederhana seperti menjadi orang yang dikenang baik oleh keluarganya atau melihat kerabatnya tersenyum bahagia.
Pada akhirnya kita sadar realisasi impian sesungguhnya, mengandung makna yang begitu subjektif terhadap kehidupan.
Bagi saya, arti dari tawakkal dan ikhtiar untuk menjadi manusia hebat adalah sederhana,
Khoirunnaasi anfa'uhum linnaas.
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” [1]
Semangat menebar manfaat!
----------------------------------------------------------------------------------------
[1] (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
Komentar
Posting Komentar