Catatan Syukur: Semut dan Semesta


Hari itu, aku sadar betapa angkuhnya aku. 
Karena seekor semut soliter yang menapaki dasar rumahku, aku diberi pelajaran penting. 


Aku sadar--terkadang, kita begitu sombong. Enggan melihat pada sekitar, dan lebih senang melihat pada kebenaran diri. Enggan melihat eksistensi diri sendiri terhadap isi semesta. Bagi semut, bukankah kita dan ruangan ini semestanya? Terkadang, aku bagaikan si semut kecil. Ia mikro terhadap ruangan rumahku. Sering mata yang rabun bahkan mengacuhkannya. Tak peduli ia sedang mencari pangan untuk rumpun sesamanya, kita menginjaknya tanpa asih sedikitpun.


Earth Compared to the Universe.
(Bumi dibandingkan dengan Alam Semesta)

 Begitu judulnya, kira-kira. Terdengar begitu saintis. Kawanku baru saja mengirim bukti terbaru mengenai evolusi makhluk hidup dan ia terlihat begitu tertarik. Sumber kebahagiaannya adalah kecintaannya terhadap ilmu alam. Tentu akupun mirip dengannya, sama-sama pecinta sains. Kami sering tenggelam dalam percakapan imajiner atas teori-teori yang mungkin mencuat di masa depan. Ah, apakah itu semakin menjauhkanku pada Allah? Akhir-akhir ini, pembahasan agama begitu booming di jagad raya medsos. Beberapa manusia juga seolah-olah mempertanyakan eksistensi keadilan Allah.
"Kalau Allah menciptakan cinta, kenapa Ia melarang hambaNya untuk pacaran?"
"Kalau Allah menciptakan rasa, kenapa kita tak melegalkan rasa untuk sesama gender kita?"
"Kalau Allah menciptakan seni, kenapa ya ada batasan tertentu?"
.
"Kenapa semakin aku belajar agama, semakin sempit kebebasanku?" 

"Lama-lama, aku menjadi manusia intoleran.. terhadap lingkunganku." 
.
.
.
"Akal dari Tuhan tidak mungkin sesempit ini!"



Aku pun sempat melalui konflik pemikiran serupa. Bagaikan kemungkinan langkah bidak catur, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut banyak sekali ditambah argumentasi logisnya. Akal manusia sejatinya adalah sesuatu yang relatif. Logika satu orang terkadang berbeda dengan yang lainnya. Apakah dua-duanya salah? Bisa ya, bisa tidak. Itulah relativisme logika. Maka aku tak akan memperdebatkan hal tersebut. Bagiku, logika manusia bukanlah acuan karena begitu relatif. FirmanNya-lah yang paling kuasa atas segala logika. 

Pada suatu waktu, aku memetik satu hikmah dari Earth Compared to the Universe di atas. Tidakkah kita sadar, kita begitu mungil di hadapan jagad raya? Terhadap bumi, bahkan kita tidak lebih besar dari semut yang merambat di ruangan rumah. Pernahkah terpikir olehmu? 

Ngapain ya, Allah sibuk mengurus makhlukNya yang begitu kecil?
Padahal kita tidak lain hanya... sebutir komponen dari kumpulan galaksi yang raksasa. Kita bagaikan mikroba terhadap semesta. Namun, Allah senantiasa peduli pada setiap makhlukNya.

Begitu banyak hal yang Allah izinkan kita memilikinya, dan begitu sedikit hal yang Allah larang kita untuk melakukannya: nafas, makanan, gerak, kepekaan, indra spesial, batin, naluri, kebebasan memilih, bercanda, tersenyum, tertawa, berlatih, bermasyarakat, berorganisasi, merasa...

Lalu kenapa ya, beberapa waktu lalu, aku masih bertanya
"Kenapa sih, hak yang kumiliki sebagai hambaNya begitu sedikit?"

.
.
Ah.. aku juga bingung. Kenapa aku begitu rakus terhadap kebebasan. 
Alhamdulillah
__________________________________________________________________________

Hari ini, aku berhasil untuk menjadi proaktif terhadap Allah. 
Mungkin nanti, di antara banyak pertanyaan yang potensial, aku akan memilih bertanya
"Allah telah menciptakan rasa kepada kita yang begitu kecil, kenapa kita harus meminta lebih?"

__________________________________________________________________________

sumber gambar:
https://www.pexels.com/


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jalan Pulang

Tentang Merasa

Prosa | -Hidup