Sumbu Nol
"Kamu, harus positif pikirannya, bakal baik-baik aja kok, semuanya"
"Selama lu mikir fine fine aja, semuanya bakal fine."
"Positif, cui, jangan mikir jelek-jelek."
Kalo aku, sering banget tuh dapet frase penyemangat seperti di atas. Entah dari teman, keluarga, feeds Line atau instagram. Apalagi di akun yang isi followersnya kebanyakan generasi youngster a.k.a remaja. Dan diriku juga amat-teramat sering mengatakan itu pada teman, dan diri sendiri.
.
"Bener juga, ya." Respons kilat yang aku kasih pasti itu. Kadang, kekhawatiran itu mereda, kadang sebaliknya justru bertambah. Menurut aku, pernyataan di atas yang niatnya untuk mendorong buat positif, bisa membantu kalo posisi kita benar-benar pas untuk mendengarnya. But, kayak yang tadi dibilang, ada masanya momentum hati belum siap untuk berpikir positif.
.
.
Jadi hari ini, aku dapat sedikit lesson dari seseorang. Katanya, coba kamu perhatiin koordinat kartesius. Sumbu x maupun y nya ada bilangan positif dan negatif, right? Di atas, gambar yang diambil dari wikipedia-karena diri ini malas jika sitasi dari situs lain, hehe.
.
Antara 1 dan -1, coba deh, ada yang memisahkan mereka. Namanya angka nol. Jadi, kalo kamu mau mengubah titik ke 1 dari -1, kamu harus ngelewatin si nol. Gak ada jalan pintas tiba-tiba dari -1 ke 1.
.
Hubungannya adalah, ketika kamu relasikan dengan pernyataan untuk berpikir positif, asumsikan pikiran negatif adalah sumbu negatif dan pikiran positif adalah sumbu positif. Mungkin nggak pikiran lu yang tadinya negatif tiba-tiba positif?
.
Misalnya, dia lagi cemas banget dan angkanya di -5 dan tiba-tiba jadi +1 tanpa melewati nol terlebih dahulu, mungkin nggak? Kayaknya, a big no. Gak mungkin. Apalagi kalau request-nya lekas ke titik +10. Apapun fase yang kamu sedang alami, ketika kamu berada di titik minus, jalan paling baik adalah melewati si nol, baru ke nilai positif lainnya.
.
Kalau dengan berpikir positif dari negatif diartikan melalui kalimat "Kamu harus positif," maka melewati titik nol bisa diartikan dengan:
.
"Gak papa kamu cemas, selama kamu gak lari darinya dan sekarang kamu mau dealing dengan cemas itu,"
"Kamu tidak ada salahnya, kok, berteman dengan cemas."
.
Dan mungkin dilanjutkan ke pertanyaan:
"Cemasmu gimana rasanya? Apa sih penyebabnya? Kira-kira kamu mau ngapain untuk berteman dengannya?"
.
Ketika aku mendengar definisi sumbu nol ini, aku baru sadar sih, mengubah pikiran negatif jadi positif dengan menerima afirmasi seperti "Kamu harus positif" itu nggak selamanya bisa dipakai dan lebih baik dihindari.
.
.
Di satu sisi, memang kata harus dalam frase "Kamu harus positif" itu bisa menjadi toksik. Apa sih yang harus di dunia ini? Apa sih yang pasti baik buat kamu?
.
.
Pula jika kamu nyari definisi yang pasti dari harus dan baik, cuma Allah yang berhak mendefinisikan itu dalam perintah dan larangan-Nya. Yang lain, hasilmu, pikiranmu, kamu-kah yang menentukan nilai harus atau pasti, baik atau buruknya? Nggak kok.
So, it's okay. Terimalah khawatir-khawatirmu. Bertemanlah dengannya dan dirimu sendiri. Selamat melewati titik nol, aku.
“Tidaklah menimpa seorang mukmin berupa rasa sakit (yang terus menerus), rasa capek, kekhawatiran (pada pikiran), sedih (karena sesuatu yang hilang), kesusahan hati atau sesuatu yang menyakiti sampai pun duri yang menusuknya melainkan akan dihapuskan dosa-dosanya.” (*)
-
Oh ya, terimakasih juga yang membalas dengan afirmasi-afirmasi positif di atas. Gimana kalian care about others dan aku pribadi, sangat bersyukur bisa diberi afirmasi positif seperti itu; there are moments where i felt like falling, and those helped!
(+) Ingat juga jika sekitar kamu merasa cemas, menyediakan waktu dan mengulurkan tangan untuk membantu mereka lepas dari kecemasan itu baik, tetapi jangan lupa nahkodakan kendali pada mereka kembali. Kebahagiaan mereka adalah tanggung jawab mereka, bukan dirimu.
Sumber

Komentar
Posting Komentar