Tidak Semua
Di malam-malam yang panjang ketika jari-jemari lelah berkutik dan mengetik, coba luangkan sedikit ruang untuk wajahmu bersandar sejenak. Beberapa tempat membuat energimu habis seketika, terluka tanpa kau prediksi lantas akhirnya tak seperti kau sangka. Ada rongga dalam relung jiwamu yang disisihkan, kau pikir itu yang terbaik dan terbahagia, yah memang tidak semuanya bisa sejalan dengan alur bawah sadarmu, kan? Di saat seperti itu, tak ada salahnya mengucapkan pada diri sendiri yang sudah lama ditelantarkan dan kau lupakan: Tidak apa-apa, aku maafkan.
Kalau lentera hidup yang menerangi jalanmu, tidak selamanya akan menajamkan lapang pandangmu terhadap semua sisi. Ada yang kau korbankan, kau tirikan, dan berkali-kali ucap batinmu yang paling apa adanya: ini pilihanku. Tidak apa-apa.. terkadang pilihan kamu tidak sempurna dan benar-benar tepat.
Jangan menindas diri dengan hukuman yang awalnya tak dalam kuasamu. Iya, memang itu adalah jalan yang kau ambil untuk dilalui. Tapi, kamu belum paham seninya. Jadi, ayo belajar sekarang. Seni bagaimana kamu lebih ramah seperti tamahnya kamu ke orang-orang lain yang kau perjuangkan.
Ada masa, dimana kamu merasa hidup benar-benar tidak adil atas peradilannya padamu. Ya sudah..
Pada akhirnya kamu akan melepas: bahwa ketika memilih jiwa lain untuk diperjuangkan, tidak selamanya mereka akan mengusahakanmu untuk juga diperjuangkan. Ketika menerangkan lenteramu untuk yang lain, tidak selamanya mereka akan menarikmu pula dari ruang gelapmu. Masa saat kau memilih suatu tujuan untuk sampai di sana, tak selamanya tempat itu akan selalu indah seperti bayangmu. Ketika kau mengupayakan untuk dibukakan suatu jalan, belum tentu jalan itu juga boleh untuk kau lalui. Maka kau belajar seni berusaha: tatkala kau mengais tanah agar bunga dapat bertumbuh dari liang itu, tak selalu yang mekar adalah bunga. Diriku, itulah seni melepaskan dan seni menghidupi kehidupan. Tapi setidaknya, kau tak menjadi mereka yang tidak punya tempat perjuangan. Setidaknya, kau luluh untuk bertumbuh. Setidaknya, kau rapuh untuk semakin utuh. Setidaknya, kau patah untuk bertambah.
Maka di setiap jalanmu, semoga sakit yang kau rasa semakin mengingatkan dirimu betapa kecilnya harga bahagia di dunia ini, tapi sedikit yang mencarinya: percaya, bahwa daya juang yang paling pantas diperuntukkan untuk-Nya semata.
Selamat merasa, selamat berbahagia, selamat belajar di atas dunia.
-
15 Dzulhijjah 1441 H/5 Agustus 2020 M
Komentar
Posting Komentar